Resensi Film

Entries categorized as ‘Story’

Peran Pengganti

Friday, March 16, 2008 · Leave a Comment

Orang Tua mana sih, yang tega bila anak kesayangannya tertimpa masalah. Terutama si anak punya julukan “semata wayang” atau anak tunggal. Apalagi masalah yang dihadapi menyangkut soal jodoh alias pendamping hidup. Jodoh ndak kunjung datang, padahal umur sudah nyalip duluan. Angka sudah bertengger di kepala empat. Apa ini yang disebut perjaka lapuk ?!

Seperti yang dialami seorang pemuda sebut saja namanya Sogol umur dalam tafsiran 45 tahun. Segala upaya untuk mendapatkan jodoh sudah dilakukan. Mulai lewat jalur kontak jodoh atau lewat perantara teman, sampai ndak sedikit ia keluar duit dari kantongnya sebagai biaya mbah dukun. Pokoknya, segala cara ditempuhnya !!!

Sayangnya, Sogol tergolong dalam kelompok manusia yang serba putus asa. Gampang nyerah dengan kesulitan. Soal pilihan jodoh pun, diserahkan pada ibu dan bapaknya. Biar calonnya itu jelek atau cuantik. Yang jelas ia kebelet berumah tangga. Ia sudah pasrah kepada orang tuanya. Nah trus orang tuanya sendiri, kebacut bebas milih calon menantu. Lha wong si anak sudah kasih lampu hijau, kok !?

Bukan hal sulit bagi Bakir dan Istrinya, orang tua Sogol, untuk mencari calon menantunya. Pandangannya, ndak lain jatuh pada Minthuk. Sebab, Minthuk itu, putrinya Pak Sarno. Lha Pak Sarno sahabat Pak Bakir sejak kecil. Jadi, gampang saja antara kedua pihak sama-sama oke.

Lamaran pun dilakukan. Diantara senyum manis Pak Bakir dan sekeluarganya begitu juga dengan Pak Sarno dan sekeluarganya. Tersirat pada wajah Minthuk tersenyum kecut. Pasalnya Minthuk ogah nrimo ing pandum. Artinya, Minthuk tidak mau dikawinkan dengan Sogol. Tapi karena takut dicap sebagai anak durhaka, ia manut saja, meski hatinya cemot-cemot.

Saat yang diimpikan Sogol untuk duduk bersanding di pelaminan pun tiba. Pengiring pengantin pria pun berduyun-duyun datang ke mempelai wanita. Ndak ubahnya seperti mau nonton pertandingan sepak bola. Segala tetek bengek upacara perkawinan sudah siap semua. Bahkan Bapak Penghulu pun sudah hadir. Namun, tebaran senyum berubah menjadi suasana kalut. Rupanya, Minthuk ngilang dari peredaran alias kabur dari rumah. Tentu saja hal itu membuat kalang kabut semua pihak, termasuk juga undangan.

Untuk menutup aib kedua keluarga mempelai, terpaksa mereka mengambil jalan pintas. Untuk menggantikan peran pengganti Minthuk, Painem-lah yang ketiban sampur. Lha Painem sendiri, ya senyam-senyum pertanda ia setubuh eh… setuju mendapatkan peran pengganti itu. Sebaliknya, Sogol malah manggut-manggut saja !!! Akhirnya, pernikahan kedua insan tersebut pun berjalan lancar. Maklum, undangan sudah banyak yang datan. Upacara harus tetap berjalan sesuai rencana. “Ndak masalah, sing penting kawin!?” pikir Sogol.

Categories: Story
Tagged: